Dear Admiral,
Sejak kelahiranmu, kami tak mendengar suaramu seperti bayi yang berbunyi ngeak-ngeak, ngeak (atau seperti itulah kalau ditransliterasikan). Suaramu terdengar paling keras di tempat mandi bayi di Siloam di antara para byi. Hingga sekarang juga demikian, suaramu sangat nyaring, tidak hanya kala menangis. Juga dalam hal tertentu kalau teriak atau berbicara dengan tekanan tertentu.
Malam tadi, kamu bermain dengan cara buka atau menutup lemari. Tanganmu terjepit, tapi kamu tidak menangis. Mami bilang supaya kami diam-diam saja. Sekitar dua menit kami diam dan kamu tak menangis sama sekali. Pasti itu sakit. Namun, kemudian kami bicara mengomentari tentang dirimu yang kuat menahan sakit tanpa tangis. Lalu kamu mendengarnya, meski tak mengerti, kamu merasa kami tahu sakitmu. Setelah itu kamu baru menangis.
Andai kami diamkan dan pura-pura tak tahu, kamu pasti tidak menangis dan melupakan rasa sakitmu hingga semua berlalu.
Tetaplah bersuara keras, jagoan kami. Untuk tangismu, biar untuk dirimu atau kala kamu memeluk kami.
We Love U Admiral
No comments:
Post a Comment