Dear Admiral,
Sejak kamu mendapat sakit yang tiba-tiba itu. Oh ya kata Mami, sebelum berangkat ke masjid, kamu masih sempat lari-lari di jalan depan rumah dan main-main dengan Ragil. Bahkan sebelum itu, Papi yang bersihkan muka, tangan dan kakimu. Tak terlihat gejala apapun, bahkan di hari sebelumnya Papi Mami pernah mandikan kamu.
Kondisimu dalam tertentu makin baik, kami harus berprasangka baik terhadap Allah Subhana wa Taala atas takdir ini, musibah ini atau cobaan untuk kami.
Di hari pertama ketika kamu muntah sebanyak tiga kali, meski tidak berturut-turut. Ketika kami bersihkan badanmu, karena muntah atau puf, kamu tak bisa tegakkan leher juga kedua kakimu lemas. Bahkan kedua matamu tak bisa terbuka lebar.
Setelah dari IGD Siloam, minum obat-obatmu, keesokan harinya, mulai membaik. Kaki bagian kanan sudah bisa bergerak baik, dalam hal ini menendang juga tangan bagian kanan. Oh ya, bibirmu juga sudah bisa terbuka,meski hanya bagian kanan. Mata kirimu yang terbuka normal bagian kiri. Reaksi kalau lagi kesal sudah ada berupa menggerakkan tangan. Namun belum disertai reaksi verbal berupa ucapan, "menye..menye..menye...."
Kami memutuskan membawamu ke Sunday Clinic Siloam. Oh ya sekitar pukul 02. 30 kamu muntah lagi, setelah kamu minum sedikit susu. Namun sebelumnya, reaksi muntah terhadap oralit tak pernah terjadi. Papi juga sudah melumurimu dengan ramuan minyak penghangat badan. Hari ini kamu muntah sekali saja. Alhamdulillah. Berkurang frekwensi muntahmu.
Banyak lho yang peduli padamu, di antara Tante Tuti Isdayani, sahabat Papi masa kuliah. Juga kawan-kawan Papi n Mami di FB.
Kami kangen pada dirimu yang ceria, gesit, lincah, suka bicara, dan lucu itu.
Semoga Allah segera menyembuhkanmu, aamiin. Sebelum ini Papi berdoa dulu di shalat malam.
Hanya kepada Allah wajib kita ibadahi dan memohon pertolongan.
Semoga kamu sehat dan tak ada pengaruh buruk secara fisik dan mental pada dirimu. Kamu adalah investasi akherat kami, semoga menjadi anak yang saleh, aamiin. Itu doa kami untukmu.
Malam ketika Mami pulang dari Antara, sebagai bagian dari Pelatihan Dasar, di dekat tempat dirimu tidur, Mami menangis. Papi juga demikian. Kami jarang menangis lho, padamu ada air mata dalam doa dan pengharapan.
We Love U Admiral
Sunday, September 27, 2015
Saturday, September 26, 2015
Dini Hari Kamu sudah Berguling-Guling
Dear Admiral,
Dini hari kamu sudah berguling-guling di tempat tidurmu, bahkan sudah bisa memeluk bantal guling yang besar. Susu Child Kid sebanyak 150 ml, sudah kamu habiskan. Apa yang kami cemaskan berupa leher yang sebelumnya tak bisa kamu tegakkan juga kakimu, semoga hari ini bisa.
Kamu bayi yang tangguh, penyakit gejala muntaber ini, semoga latihan untuk tubuh dan jiwamu agar semakin kuat. Itu juga berlaku untuk Papi dan Mami, agar semakin menguatkan jwa raga kami menghadapi apapun juga,'
We Love U Admiral
Dini hari kamu sudah berguling-guling di tempat tidurmu, bahkan sudah bisa memeluk bantal guling yang besar. Susu Child Kid sebanyak 150 ml, sudah kamu habiskan. Apa yang kami cemaskan berupa leher yang sebelumnya tak bisa kamu tegakkan juga kakimu, semoga hari ini bisa.
Kamu bayi yang tangguh, penyakit gejala muntaber ini, semoga latihan untuk tubuh dan jiwamu agar semakin kuat. Itu juga berlaku untuk Papi dan Mami, agar semakin menguatkan jwa raga kami menghadapi apapun juga,'
We Love U Admiral
Bayi Kami yang Penyejuk Hati
Dear Admiral,
Suatu ketika di masa depan, sesuai doa kami yang berdasarkan namamu Admiral Comandante al-Mustafa, Insya Allah kamu menjadi sosok yang besar. Namun kamu harus tahu, bahwa sehebat-hebatnya manusia, siapapun dia pasti pernah menjadi bayi. Suatu era, ketika tak bisa melakukan apapun dan tentu penuh ketidak-berdayaan.
Ingatkan pada mereka yang angkuh dan sombong, bahwa semua itu tak didapatkan kala bayi. Sayang sekali, mereka yang membesarkan diri dengan keangkuhaan dan kesewenang-wenangan tak ingat bagaimana ketika masih bayi yang tak punya keberdayaan sedikitpun.
Kami merawatpun dengan sepenuh kasih sayang dan perhatian yang berlimpah.
Semoga Allah merahmatimu, putra kami yang penyejuk hati.
Kata Mami, kamu investasi kami di akherat. Jadi kami akan mendidikmu agar menjadi anak yang saleh, aamiin
We Love U Admiral
Suatu ketika di masa depan, sesuai doa kami yang berdasarkan namamu Admiral Comandante al-Mustafa, Insya Allah kamu menjadi sosok yang besar. Namun kamu harus tahu, bahwa sehebat-hebatnya manusia, siapapun dia pasti pernah menjadi bayi. Suatu era, ketika tak bisa melakukan apapun dan tentu penuh ketidak-berdayaan.
Ingatkan pada mereka yang angkuh dan sombong, bahwa semua itu tak didapatkan kala bayi. Sayang sekali, mereka yang membesarkan diri dengan keangkuhaan dan kesewenang-wenangan tak ingat bagaimana ketika masih bayi yang tak punya keberdayaan sedikitpun.
Kami merawatpun dengan sepenuh kasih sayang dan perhatian yang berlimpah.
Semoga Allah merahmatimu, putra kami yang penyejuk hati.
Kata Mami, kamu investasi kami di akherat. Jadi kami akan mendidikmu agar menjadi anak yang saleh, aamiin
We Love U Admiral
Kecemasan dan Keringat Dingin
Dear Admiral,
Seusai Papi dan Mami mengantarmu ke dokter, juga sepupumu Febby, kamu mendapat tambahan 'minuman baru'berupa oralit. Kamu memamng tidak menolak meminumnya, sebagaimana bila berkaitan dengan rasa obat. Setelah kamu minum, terlihat lidahmu berada di antara gigi-gigimu. Tidak tergigit memang, tapi kami cemas mengapa susah melepaskan lidahmu yang 'terjepit' di gigi atas dan bawah. Saat itu, entah karena capek dari dokter atau memang istrahat pulas, tanganmu lemas sekali.
Biasanya bila kamu bobo dan kami pegang-pegang tanganmu, kamu langsung menampik. Tapi tidak kali ini. Papi berkeringat dingin di jidat, bahkan kata Mami, wajahku pucat pasi. Denyut jantungku berdebar kencang. Tapi Mami kulihat biasa-biasa saja. Mami berusaha melepaskan lidahmu di antara dua gigi dengan mendorong memakai dot juga jemari.
Alhamdulillah bisa!
Kami cek suhu tubumu 36,7 Celcius, berarti tak ada yang perlu kami cemaskan lagi.
Sejak pukul 21-an hingga jelang pukul 04.00 kamu sudah habiskan oralit satu bungkus.
Kami juga sudah mengganti susumu dari Bebelac 3 ke Chil Kid. Biasanya kamu muntah seusai minum susu, tapi tadi tidak. Oh ya susumu ada juga SGM Soya, karena Papi kira kamu tak cocok dengan susu sapi.
Semoga hari ini kamu sehat dan berlari-lari kencang dengan energi yang kami benar-benar tak habis.
We Love U Admiral
Seusai Papi dan Mami mengantarmu ke dokter, juga sepupumu Febby, kamu mendapat tambahan 'minuman baru'berupa oralit. Kamu memamng tidak menolak meminumnya, sebagaimana bila berkaitan dengan rasa obat. Setelah kamu minum, terlihat lidahmu berada di antara gigi-gigimu. Tidak tergigit memang, tapi kami cemas mengapa susah melepaskan lidahmu yang 'terjepit' di gigi atas dan bawah. Saat itu, entah karena capek dari dokter atau memang istrahat pulas, tanganmu lemas sekali.
Biasanya bila kamu bobo dan kami pegang-pegang tanganmu, kamu langsung menampik. Tapi tidak kali ini. Papi berkeringat dingin di jidat, bahkan kata Mami, wajahku pucat pasi. Denyut jantungku berdebar kencang. Tapi Mami kulihat biasa-biasa saja. Mami berusaha melepaskan lidahmu di antara dua gigi dengan mendorong memakai dot juga jemari.
Alhamdulillah bisa!
Kami cek suhu tubumu 36,7 Celcius, berarti tak ada yang perlu kami cemaskan lagi.
Sejak pukul 21-an hingga jelang pukul 04.00 kamu sudah habiskan oralit satu bungkus.
Kami juga sudah mengganti susumu dari Bebelac 3 ke Chil Kid. Biasanya kamu muntah seusai minum susu, tapi tadi tidak. Oh ya susumu ada juga SGM Soya, karena Papi kira kamu tak cocok dengan susu sapi.
Semoga hari ini kamu sehat dan berlari-lari kencang dengan energi yang kami benar-benar tak habis.
We Love U Admiral
Friday, September 25, 2015
Belum Muntah
Dear Admiral,
Pagi ini, meski ada pertanda muntah, namun tak terjadi. Alhamdulillah. Kamu puf tapi tak berbentuk keras, agak kurang padat, tapi bukan mencret. Warna kotoran, coklat tua atau agak kehitam-hitaman. Masih normal seperti kala kamu sehat.
Obat penghilang muntah sudah kamu minum, meski dengan penolakan tentu saja. Hanya beberapa tetes yang terbuang. Pagi ini kamu akan makan bubur Nestle kembali, Sebelumnya Papi rencanakan kamu makan bubur coklat Sun, tapi entahlah apakah kamu suka. Sebelumnya kamu tak suka sama sekali. Tapi patut dicoba, siapa tahu kali ini suka.
Kamu sudah mulai bergerak cepar, meski hanya sebatas menendang atau mencakar dan sesekali memukul. Papi kamu cakar waktu bersihkan kotoranmu alias cebokin.
Kamu ternyata muntah, bahkan keluar air juga dari hidung. Oh ya kamu sudah lengkap vaksinasi atau imunisasi Rotavirus untuk melawan muntaber, namun kamu terpapar juga.
Semoga hari ini, lehermu kembali tegak melawan dengan setangguhnya penyakitmu. Kuatkan kedua kuda-kudamu sayang, berdiri tegak kembali ya an berjalan juga berlari sekencamgnya seperti waktu kamu sehat dua hari lalu dan juga hari-hari sebelumnya, aamiin.
We love U Admiral
Pagi ini, meski ada pertanda muntah, namun tak terjadi. Alhamdulillah. Kamu puf tapi tak berbentuk keras, agak kurang padat, tapi bukan mencret. Warna kotoran, coklat tua atau agak kehitam-hitaman. Masih normal seperti kala kamu sehat.
Obat penghilang muntah sudah kamu minum, meski dengan penolakan tentu saja. Hanya beberapa tetes yang terbuang. Pagi ini kamu akan makan bubur Nestle kembali, Sebelumnya Papi rencanakan kamu makan bubur coklat Sun, tapi entahlah apakah kamu suka. Sebelumnya kamu tak suka sama sekali. Tapi patut dicoba, siapa tahu kali ini suka.
Kamu sudah mulai bergerak cepar, meski hanya sebatas menendang atau mencakar dan sesekali memukul. Papi kamu cakar waktu bersihkan kotoranmu alias cebokin.
Kamu ternyata muntah, bahkan keluar air juga dari hidung. Oh ya kamu sudah lengkap vaksinasi atau imunisasi Rotavirus untuk melawan muntaber, namun kamu terpapar juga.
Semoga hari ini, lehermu kembali tegak melawan dengan setangguhnya penyakitmu. Kuatkan kedua kuda-kudamu sayang, berdiri tegak kembali ya an berjalan juga berlari sekencamgnya seperti waktu kamu sehat dua hari lalu dan juga hari-hari sebelumnya, aamiin.
We love U Admiral
Gejala Muntaber di Salat Ied
Dear Admiral,
Kamu ikut juga merayakan Idul Qurban ini di masjid Nurul Sejahtera bersama Mami. Saat pengurus masjid menjelaskan tata cara shalat, Papi dengar suara anak kecil menangis keras sekali. Suara yang Papi lazim dengar, tapi bila itu memang dirimu mengapa menangis? Kamu suka keramaian, jadi tak mungkin menangis saat itu. Papi berharap demikian.
Seusai salat, Papi menunggu di depan pintu masjid. Namun kamu bersama Mami tak ada, padahal Papi sudah menuunggu sebelum jamaah perempuan pulang. Hingga jamaah terakhir terlihat,
kamu tak ada, juga Mami.
Papi tentu saja cemas pada tangismu sepagi itu, padahal sebelum berangkat, kamu baik-baik saja. Papi bersihkan mukamu juga pada area yang terpapar pipis. Kaki dan tanganmu juga dibersihkan.
Setiba di rumah, Papi lihat kamu terbaring lemas dengan mata terpejam. Kamu biasanya lincah dan gesit setiap pagi, mondar-mandir dan bermain apa saja. Pagi di Idul Adha, kami mendapat ujian Allah melalui sakitmu, sayang.
Meski Mami mengusap-usap wajahmu juga punggungmu, kamu tak bereaksi spontan. Lalu yang kami takutkan itu tiba, kamu muntah. Tidak sekali, tapi dua kali dalam selang du jam. Sekitar pukul 11-an kamu muntah lagi. "Admiral harus dibawa ke Siloam!" Ujar Mami, "Nanti siang sehabis salat Dhuhur."
Di Siloam, ternyata ada dua pasien yang juga muntah-muntah, meski yang satu sudah berumur sekitar 3 tahun dan seorang kelihatannya 13-an tahun.
Setelah diperiksa dokter, kamu terindikasi muntaber. Mami mengunggah fotomu sedang makan roti. Makanan pertama hari itu sekitar jam 13-an. Dokter menyarankan agar tak makan roti, karena beragi. Kamu diberi obat Sanmol juga penghenti muntah plus prebiotik.
Kami lega, kamu baik-baik saja. Namun kamu masih lemas dan hanya tidur sejak tinggalkan Siloam hingga kembali ke rumah. Di rumah, sore hari, kamu makan lahap bubur Nestle, yang sebenarnya jarang kamu sukai beberapa bulan ini. Meski makan cukup banyak plus dua potongan kecil pepaya, namun kamu masih lemas. Sebelumnya kamu puf, tapi kotoranmu masih seperti kala kamu sehat. Cuma saat kamu dibersihkan, lehermu juga kedua kaki tak tegak. Kamu lemas, bahkan reaksimu yang menyukai air juga tak terlihat.
Malam hari kamu muntah lagi sekitar pukul 23-an, meski sebelumnya kamu sudah minum obat penghenti mual dan muntah. Temperatur tubuhmu sebelumnya 37,1 waktu pengukuran di Siloam, begitu juga malam pukul 19-an. Namun saat badanmu panas, pukul 23-an, kami tak bisa mengukurnya karena kamu terganggu adanya termometer di ketiakmu.
Pagi ini, kamu sudah minum susu tapi belum bangun. Papi sudah olesi badanmu dengan campuran minyak beruang, bawang merah dan perasan jeruk nipis. Itu resep dari Eyang Putri juga teman Mami yakni Mamah Yetti. Olesan itu juga sudah kami lakukan malam tadi.
Kami harap kamu sembuh hari ini. Kamu masih terlelap. Sebentar lagi, Papi akan tetesi susumu dengan prebiotik. Doa kami pada Allah untuk kesembuhanmu, aamiin.
We Love U Admiral
Kamu ikut juga merayakan Idul Qurban ini di masjid Nurul Sejahtera bersama Mami. Saat pengurus masjid menjelaskan tata cara shalat, Papi dengar suara anak kecil menangis keras sekali. Suara yang Papi lazim dengar, tapi bila itu memang dirimu mengapa menangis? Kamu suka keramaian, jadi tak mungkin menangis saat itu. Papi berharap demikian.
Seusai salat, Papi menunggu di depan pintu masjid. Namun kamu bersama Mami tak ada, padahal Papi sudah menuunggu sebelum jamaah perempuan pulang. Hingga jamaah terakhir terlihat,
kamu tak ada, juga Mami.
Papi tentu saja cemas pada tangismu sepagi itu, padahal sebelum berangkat, kamu baik-baik saja. Papi bersihkan mukamu juga pada area yang terpapar pipis. Kaki dan tanganmu juga dibersihkan.
Setiba di rumah, Papi lihat kamu terbaring lemas dengan mata terpejam. Kamu biasanya lincah dan gesit setiap pagi, mondar-mandir dan bermain apa saja. Pagi di Idul Adha, kami mendapat ujian Allah melalui sakitmu, sayang.
Meski Mami mengusap-usap wajahmu juga punggungmu, kamu tak bereaksi spontan. Lalu yang kami takutkan itu tiba, kamu muntah. Tidak sekali, tapi dua kali dalam selang du jam. Sekitar pukul 11-an kamu muntah lagi. "Admiral harus dibawa ke Siloam!" Ujar Mami, "Nanti siang sehabis salat Dhuhur."
Di Siloam, ternyata ada dua pasien yang juga muntah-muntah, meski yang satu sudah berumur sekitar 3 tahun dan seorang kelihatannya 13-an tahun.
Setelah diperiksa dokter, kamu terindikasi muntaber. Mami mengunggah fotomu sedang makan roti. Makanan pertama hari itu sekitar jam 13-an. Dokter menyarankan agar tak makan roti, karena beragi. Kamu diberi obat Sanmol juga penghenti muntah plus prebiotik.
Kami lega, kamu baik-baik saja. Namun kamu masih lemas dan hanya tidur sejak tinggalkan Siloam hingga kembali ke rumah. Di rumah, sore hari, kamu makan lahap bubur Nestle, yang sebenarnya jarang kamu sukai beberapa bulan ini. Meski makan cukup banyak plus dua potongan kecil pepaya, namun kamu masih lemas. Sebelumnya kamu puf, tapi kotoranmu masih seperti kala kamu sehat. Cuma saat kamu dibersihkan, lehermu juga kedua kaki tak tegak. Kamu lemas, bahkan reaksimu yang menyukai air juga tak terlihat.
Malam hari kamu muntah lagi sekitar pukul 23-an, meski sebelumnya kamu sudah minum obat penghenti mual dan muntah. Temperatur tubuhmu sebelumnya 37,1 waktu pengukuran di Siloam, begitu juga malam pukul 19-an. Namun saat badanmu panas, pukul 23-an, kami tak bisa mengukurnya karena kamu terganggu adanya termometer di ketiakmu.
Pagi ini, kamu sudah minum susu tapi belum bangun. Papi sudah olesi badanmu dengan campuran minyak beruang, bawang merah dan perasan jeruk nipis. Itu resep dari Eyang Putri juga teman Mami yakni Mamah Yetti. Olesan itu juga sudah kami lakukan malam tadi.
Kami harap kamu sembuh hari ini. Kamu masih terlelap. Sebentar lagi, Papi akan tetesi susumu dengan prebiotik. Doa kami pada Allah untuk kesembuhanmu, aamiin.
We Love U Admiral
Thursday, September 24, 2015
Beratmu Normal
Dear Admiral,
Beratmu kini 10,5 kg. Kami menimbangmu di sebuah tempat praktek dokter, ketika Febby diperiksa ulang luka jahitannya. Kamu semakin KEPO memerhatikan apapun di dekatmu secara cermat. Kamu bahkan masih bermain naik tangga. Kamu suka sekali naik tangga sekarang, sebagai tantangan, juga menyenangi memanjat, meski bukan pohon. Tumpukan baju, kamu suka panjati. Bahkan kamu suka lompat-lompatan dan berguling di kasur. Dinding sekitar kasur kini diamankan dengan bantal agar kamu tak kejeduk.
We love U Admiral
Beratmu kini 10,5 kg. Kami menimbangmu di sebuah tempat praktek dokter, ketika Febby diperiksa ulang luka jahitannya. Kamu semakin KEPO memerhatikan apapun di dekatmu secara cermat. Kamu bahkan masih bermain naik tangga. Kamu suka sekali naik tangga sekarang, sebagai tantangan, juga menyenangi memanjat, meski bukan pohon. Tumpukan baju, kamu suka panjati. Bahkan kamu suka lompat-lompatan dan berguling di kasur. Dinding sekitar kasur kini diamankan dengan bantal agar kamu tak kejeduk.
We love U Admiral
Orang-Orang tanpa Pamrih
Dear Admiral,
Dua hari lalu, dua kakak sepupumu kecelakaan motor depan kantor BRI Paccinongan karena menghindari tabrakan dengan seorang ibu yang juga bermotor yang keluar dari depan rumahnya. Debby, tiga gigi depannya goyah. Salah satu diantaranya hampir copot. Febby harus dijahit pada bagian bibir kiri atas, satu jahitan. Luka lainnya pada Debby yakni memar kepala kiri, bengkak bibir. Pada Febby bengkak pada bagian lutut.
Debby harus dibawa ke spesialis gigi di jalan Pettarani agar bisa mempertahankan gigi itu dengan cara diberi kawat gigit. Kondisi motor matic rusak pada bagian lampu utama dan kaca spion lepas.
Moral dari peristiwa ini yakni adanya Pak Rahim (081241846846) yang waktu itu hendak menjenguk sepupunya yang melahirkan di RSUD Syech Yusuf. Ia melewati arah tempat Debby dan Febby kecelakaan dan membawa mereka ke IGD. Kalau bukan ia, pasti akan semakin berbahaya pada dua sepupumu, di antaranya pendarahan dan rasa takut yang makin besar. Ia bahkan memastikan saya juga berada di IGD dengan menunggu.
Di IGD ini pelayanan lambat, menurut dua sepupumu, mereka dilayani setelah menunggu setengah jam. Yang berjaga, bukan dokter tapi tiga perawat saja. Bahkan disana, saat itu ada seorang ayah yang mengeluarkan anaknya dari IGD karena terabaikan. Anak itu dilayani setelah Bapaknya membawa keluar anaknya dari ruang IGD.
Malam hari setelah keluar IGD, Debby dibawa ke dokter gigi, Meski sudah diperiksa sekitar setengah jam, tapi dokter itu tak meminta bayaran. Dialah yang merekemondasikan agar Debby dirujuk ke perawatan khusus gigi. Tentang dokter gigi yang baik itu, nanti kutulis pada bagian lain.
Selalui ada orang baik, jadi jadilah kamu seorang penolong yang tanpa pamrih seperti sikap dari Pak Rahim dan Pak Dokter Gigi tersebut.
We Love U Admiral
Dua hari lalu, dua kakak sepupumu kecelakaan motor depan kantor BRI Paccinongan karena menghindari tabrakan dengan seorang ibu yang juga bermotor yang keluar dari depan rumahnya. Debby, tiga gigi depannya goyah. Salah satu diantaranya hampir copot. Febby harus dijahit pada bagian bibir kiri atas, satu jahitan. Luka lainnya pada Debby yakni memar kepala kiri, bengkak bibir. Pada Febby bengkak pada bagian lutut.
Debby harus dibawa ke spesialis gigi di jalan Pettarani agar bisa mempertahankan gigi itu dengan cara diberi kawat gigit. Kondisi motor matic rusak pada bagian lampu utama dan kaca spion lepas.
Moral dari peristiwa ini yakni adanya Pak Rahim (081241846846) yang waktu itu hendak menjenguk sepupunya yang melahirkan di RSUD Syech Yusuf. Ia melewati arah tempat Debby dan Febby kecelakaan dan membawa mereka ke IGD. Kalau bukan ia, pasti akan semakin berbahaya pada dua sepupumu, di antaranya pendarahan dan rasa takut yang makin besar. Ia bahkan memastikan saya juga berada di IGD dengan menunggu.
Di IGD ini pelayanan lambat, menurut dua sepupumu, mereka dilayani setelah menunggu setengah jam. Yang berjaga, bukan dokter tapi tiga perawat saja. Bahkan disana, saat itu ada seorang ayah yang mengeluarkan anaknya dari IGD karena terabaikan. Anak itu dilayani setelah Bapaknya membawa keluar anaknya dari ruang IGD.
Malam hari setelah keluar IGD, Debby dibawa ke dokter gigi, Meski sudah diperiksa sekitar setengah jam, tapi dokter itu tak meminta bayaran. Dialah yang merekemondasikan agar Debby dirujuk ke perawatan khusus gigi. Tentang dokter gigi yang baik itu, nanti kutulis pada bagian lain.
Selalui ada orang baik, jadi jadilah kamu seorang penolong yang tanpa pamrih seperti sikap dari Pak Rahim dan Pak Dokter Gigi tersebut.
We Love U Admiral
Tuesday, September 22, 2015
Suaramu Keras juga Tangismu
Dear Admiral,
Sejak kelahiranmu, kami tak mendengar suaramu seperti bayi yang berbunyi ngeak-ngeak, ngeak (atau seperti itulah kalau ditransliterasikan). Suaramu terdengar paling keras di tempat mandi bayi di Siloam di antara para byi. Hingga sekarang juga demikian, suaramu sangat nyaring, tidak hanya kala menangis. Juga dalam hal tertentu kalau teriak atau berbicara dengan tekanan tertentu.
Malam tadi, kamu bermain dengan cara buka atau menutup lemari. Tanganmu terjepit, tapi kamu tidak menangis. Mami bilang supaya kami diam-diam saja. Sekitar dua menit kami diam dan kamu tak menangis sama sekali. Pasti itu sakit. Namun, kemudian kami bicara mengomentari tentang dirimu yang kuat menahan sakit tanpa tangis. Lalu kamu mendengarnya, meski tak mengerti, kamu merasa kami tahu sakitmu. Setelah itu kamu baru menangis.
Andai kami diamkan dan pura-pura tak tahu, kamu pasti tidak menangis dan melupakan rasa sakitmu hingga semua berlalu.
Tetaplah bersuara keras, jagoan kami. Untuk tangismu, biar untuk dirimu atau kala kamu memeluk kami.
We Love U Admiral
Sejak kelahiranmu, kami tak mendengar suaramu seperti bayi yang berbunyi ngeak-ngeak, ngeak (atau seperti itulah kalau ditransliterasikan). Suaramu terdengar paling keras di tempat mandi bayi di Siloam di antara para byi. Hingga sekarang juga demikian, suaramu sangat nyaring, tidak hanya kala menangis. Juga dalam hal tertentu kalau teriak atau berbicara dengan tekanan tertentu.
Malam tadi, kamu bermain dengan cara buka atau menutup lemari. Tanganmu terjepit, tapi kamu tidak menangis. Mami bilang supaya kami diam-diam saja. Sekitar dua menit kami diam dan kamu tak menangis sama sekali. Pasti itu sakit. Namun, kemudian kami bicara mengomentari tentang dirimu yang kuat menahan sakit tanpa tangis. Lalu kamu mendengarnya, meski tak mengerti, kamu merasa kami tahu sakitmu. Setelah itu kamu baru menangis.
Andai kami diamkan dan pura-pura tak tahu, kamu pasti tidak menangis dan melupakan rasa sakitmu hingga semua berlalu.
Tetaplah bersuara keras, jagoan kami. Untuk tangismu, biar untuk dirimu atau kala kamu memeluk kami.
We Love U Admiral
Monday, September 21, 2015
Tak Lepas dari Pelukan
Dear Admiral,
Kamu kadang chuek banget, lalu lalang di depan Mami tapi tak mau singgah atau sekedar berkata sesuatu. Mami sangka itu karena kamu merasa terabaikan. Mami juga menangis lho, karena kamu chuekin. Tapi itu hanya sangkaan Mami belaka. Buktinya kalau bangun pagi, Mami peluk dirimu dan kamu tak mau lepas darinya, meski hanya untuk beberapa menit. Setelah itu kamu kembali sibuk jalan kesana kemari atau bongkar apa saja.
Oh ya kamu susah benar makan. Makanan dari buku resep, sudah dicoba tapi hasilnya nihil. Favoritmu cuma gogos atau lemper. Pernah Tante Unny temukan duri ikan dalam gogos. Sejak itu gogos isi ikan tak pernah lagi dibeli.
Sekarang dicoba, di dalam botol susumu diberikan korma. Semoga itu menjadi cara meningkatkan nafsu makanmu, tapi juga tidak berhasil. Kamu kenyang minum susu barangkali. Bandingkan dengan Asraf, anaknya Om Habibie dan Tante Hanifah, makannya lahap sebagaimana waktu sama-sama main di Pantai Akkarena.
Gitu deh Admiral Sayang
Kamu kadang chuek banget, lalu lalang di depan Mami tapi tak mau singgah atau sekedar berkata sesuatu. Mami sangka itu karena kamu merasa terabaikan. Mami juga menangis lho, karena kamu chuekin. Tapi itu hanya sangkaan Mami belaka. Buktinya kalau bangun pagi, Mami peluk dirimu dan kamu tak mau lepas darinya, meski hanya untuk beberapa menit. Setelah itu kamu kembali sibuk jalan kesana kemari atau bongkar apa saja.
Oh ya kamu susah benar makan. Makanan dari buku resep, sudah dicoba tapi hasilnya nihil. Favoritmu cuma gogos atau lemper. Pernah Tante Unny temukan duri ikan dalam gogos. Sejak itu gogos isi ikan tak pernah lagi dibeli.
Sekarang dicoba, di dalam botol susumu diberikan korma. Semoga itu menjadi cara meningkatkan nafsu makanmu, tapi juga tidak berhasil. Kamu kenyang minum susu barangkali. Bandingkan dengan Asraf, anaknya Om Habibie dan Tante Hanifah, makannya lahap sebagaimana waktu sama-sama main di Pantai Akkarena.
Gitu deh Admiral Sayang
Saturday, September 19, 2015
Bahasa Datum-Datum, Benji-Benji, dan Menye-Menye
Dear Admiral,
Datum-Datum, bahasa pertamamu yang merupakan bentuk komunikasi yang saling bersambung bila Papi Mami bicara denganmu. Bahasa itu juga merupakan perkataanmu bila hendak menyampaikan sesuatu. Apa saja kamu sebut sebagai datum-datum, kala berusia setahun. Setelah itu, kamu juga sudah bisa mengatakan tentang "jatuh" berkaitan dengan benda yang jatuh atau yang kamu lempar. Kamu akan mengulang kata "jatuh" hingga benda itu kamu ambil dari lantai atau kami yang mengambilnya.
Mobil kam sebut bam, laba-laba kamu lafalkan dengan baba-baba. Pesawat menjadi sawat. Setelah itu kamu benar-benar bisa bercerita melalui bahasa Benji-Benji. Semua yang ada di rumah atau di luar, kamu ceritakan dengan isyarat tangan dan mimik lengkap.
Bila kamu kesal, kamu berbahasa menye-menye atau variannya. Setelah itu kamu menggabungkan semua huruf lalu berucap sekencang-kencangnya.
Menggemaskan bila semua pengalamanmu sehari, kamu jelaskan dengan bahasa seperti itu.
We Love U
Datum-Datum, bahasa pertamamu yang merupakan bentuk komunikasi yang saling bersambung bila Papi Mami bicara denganmu. Bahasa itu juga merupakan perkataanmu bila hendak menyampaikan sesuatu. Apa saja kamu sebut sebagai datum-datum, kala berusia setahun. Setelah itu, kamu juga sudah bisa mengatakan tentang "jatuh" berkaitan dengan benda yang jatuh atau yang kamu lempar. Kamu akan mengulang kata "jatuh" hingga benda itu kamu ambil dari lantai atau kami yang mengambilnya.
Mobil kam sebut bam, laba-laba kamu lafalkan dengan baba-baba. Pesawat menjadi sawat. Setelah itu kamu benar-benar bisa bercerita melalui bahasa Benji-Benji. Semua yang ada di rumah atau di luar, kamu ceritakan dengan isyarat tangan dan mimik lengkap.
Bila kamu kesal, kamu berbahasa menye-menye atau variannya. Setelah itu kamu menggabungkan semua huruf lalu berucap sekencang-kencangnya.
Menggemaskan bila semua pengalamanmu sehari, kamu jelaskan dengan bahasa seperti itu.
We Love U
Friday, September 18, 2015
Luka Main Bola
Dear Admiral,
Kamu main bola malam di dalam rumah, karena berlari belum terkendali kamu terjerembab. Luka pertamamu ini cukup keras karena bibir bagian tas bengkak dan berdarah. Alhamdulillah meski menangis sangat keras karena sakit atau mungkin juga kaget, tapi tak bermasalah pada gusi dan gigi. Sekitar 15 menit kemudian, kamu sudah bisa minum susu kembali dan bobo pulas.
Harusnya untuk mengatasi kekagetan, kamu sebaiknya minum air. Namun kamu menolak, memilih untuk menangis.
Oh ya, kini kamu tak bisa lagi tidur pagi. Jadwal tidurmu berubah siang. Kamu juga sering memaksa untuk keluar malam, padahal tak bagus untukmu keluar malam. Jadi lampu halaman dimatikan, biar tak semakin memaksa kami untuk ikut juga keluar. Meski niatmu tak surut, tapi tak lagi sekeras kinginan sebelumnya.
Kamu hanya berdiri di pintu atau jendela melihat kegelapan. Suatu saat kamu pasti, keluar juga menembusi kegelapan. Kamu pemberani jagoanku!
Papi Mami
Kamu main bola malam di dalam rumah, karena berlari belum terkendali kamu terjerembab. Luka pertamamu ini cukup keras karena bibir bagian tas bengkak dan berdarah. Alhamdulillah meski menangis sangat keras karena sakit atau mungkin juga kaget, tapi tak bermasalah pada gusi dan gigi. Sekitar 15 menit kemudian, kamu sudah bisa minum susu kembali dan bobo pulas.
Harusnya untuk mengatasi kekagetan, kamu sebaiknya minum air. Namun kamu menolak, memilih untuk menangis.
Oh ya, kini kamu tak bisa lagi tidur pagi. Jadwal tidurmu berubah siang. Kamu juga sering memaksa untuk keluar malam, padahal tak bagus untukmu keluar malam. Jadi lampu halaman dimatikan, biar tak semakin memaksa kami untuk ikut juga keluar. Meski niatmu tak surut, tapi tak lagi sekeras kinginan sebelumnya.
Kamu hanya berdiri di pintu atau jendela melihat kegelapan. Suatu saat kamu pasti, keluar juga menembusi kegelapan. Kamu pemberani jagoanku!
Papi Mami
Thursday, September 17, 2015
Bangun Dini Hari dan Tantrum
Dear Admiral,
Kamu bangun kepagian jam 02: 30, bukan hanya untuk minum susu dari dot, tapi juga untuk main-main. Kamu mendesak untuk segera diajak bermain atau kalau tidak kamu pasti rewel alias tantrum. Apapun ulahmu selalu membuat kami berbahagia. Oh ya, kamu suka ke dapur melihat aktivitas memasak, meski setiap kali kesana pasti kamu dicegah dengan cara digendong. Dapur tak aman karena bisa saja kamu melempar gelas.
Pukul 05:00 kamu tertidur lagi, seirung sayup-sayup azan subuh.
We love U Admiral
Kamu bangun kepagian jam 02: 30, bukan hanya untuk minum susu dari dot, tapi juga untuk main-main. Kamu mendesak untuk segera diajak bermain atau kalau tidak kamu pasti rewel alias tantrum. Apapun ulahmu selalu membuat kami berbahagia. Oh ya, kamu suka ke dapur melihat aktivitas memasak, meski setiap kali kesana pasti kamu dicegah dengan cara digendong. Dapur tak aman karena bisa saja kamu melempar gelas.
Pukul 05:00 kamu tertidur lagi, seirung sayup-sayup azan subuh.
We love U Admiral
Wednesday, September 16, 2015
Bermain Bola
Dear Admiral,
Kamu kini suka main bola. Bukan bola plastik, tapi buah-buahan plastik. Mengapa? kalau bola plastik, pasti kamu tendang cukup jauh, sehingga butuh waktu mencarinya. Buah-buahan dari plastik, tak susah dicari karena tidak terguling jauh. Kamu bermain bola bersama Kakak Qonita. Ia memanggilmu "Amiral"..."Amiral bolaku mana?" Teriak Qonita bila gilirannya menendang bola.
Kamu lari cukup kencang ngejar bola, tapi bila agak capek, kamu masuk ke pekarangan. Lalu menari menarik-narik dedaunan atau menginjak bunga. Kadang kamu juga menginjak kucingmu. "Sayangi kucingmu ya!" Begitu kata Papi, tapi larangan itu terabaikan. Jadi Papi langsung angkat kamu, sebelum kucing kamu injak. Kucingmu juga baik, tak pernah marah kalau kamu ganggu, juga tak pernah mencakar dan menggigitmu.
Sayangi binatang ya!
We love U
Kamu kini suka main bola. Bukan bola plastik, tapi buah-buahan plastik. Mengapa? kalau bola plastik, pasti kamu tendang cukup jauh, sehingga butuh waktu mencarinya. Buah-buahan dari plastik, tak susah dicari karena tidak terguling jauh. Kamu bermain bola bersama Kakak Qonita. Ia memanggilmu "Amiral"..."Amiral bolaku mana?" Teriak Qonita bila gilirannya menendang bola.
Kamu lari cukup kencang ngejar bola, tapi bila agak capek, kamu masuk ke pekarangan. Lalu menari menarik-narik dedaunan atau menginjak bunga. Kadang kamu juga menginjak kucingmu. "Sayangi kucingmu ya!" Begitu kata Papi, tapi larangan itu terabaikan. Jadi Papi langsung angkat kamu, sebelum kucing kamu injak. Kucingmu juga baik, tak pernah marah kalau kamu ganggu, juga tak pernah mencakar dan menggigitmu.
Sayangi binatang ya!
We love U
Monday, September 14, 2015
Berjalan Mundur itu Kemajuan
Admiral Sayang,
Setelah kamu berjalan atau berlari cukup kencang mengejar bola, pekan lalu Mami mengajarimu berjalan mundur. Terlihat susah karena itu sebuah cara untuk latihan orientasi menuju ke arah depan atau belakang. Kamu mulai jatuh dan berdiri lagi. Kakak sepupumu Deby dan Febby juga terlibat melatihmu. Tiga hari kemudian tanpa diminta kamu bisa melakukannya sendiri.
Sebuah kemajuan langkahmu, justru ketika mundur berjalan.
We love you Admiral
Setelah kamu berjalan atau berlari cukup kencang mengejar bola, pekan lalu Mami mengajarimu berjalan mundur. Terlihat susah karena itu sebuah cara untuk latihan orientasi menuju ke arah depan atau belakang. Kamu mulai jatuh dan berdiri lagi. Kakak sepupumu Deby dan Febby juga terlibat melatihmu. Tiga hari kemudian tanpa diminta kamu bisa melakukannya sendiri.
Sebuah kemajuan langkahmu, justru ketika mundur berjalan.
We love you Admiral
Wednesday, September 9, 2015
Kamu dan si Kumi
Dear Admiral,
Kala itu usiamu 8 bulan, otot-otot kakimu semakin kencang. Jiwa petualangmu sudah terlihat, setiap pojok rumah selalu ingin kau datangi.Pintu terbuka sedikit saja, kau langsung mengarahkan kaki seperti ingin berlari. ya... meskipun waktu itu kau baru belajar merangkak, tapi tak menyurutkan upayamu untuk menuju tempat yang baru. Ohya, kau juga sayaaaang sekali dengan bonekamu si "kumi", sampai-sampai kumi selalu kau gigit-gigit.
Ah... Admiral, kau memang menggemaskan!


Subscribe to:
Posts (Atom)