Dear Admiral,
Kamu ikut juga merayakan Idul Qurban ini di masjid Nurul Sejahtera bersama Mami. Saat pengurus masjid menjelaskan tata cara shalat, Papi dengar suara anak kecil menangis keras sekali. Suara yang Papi lazim dengar, tapi bila itu memang dirimu mengapa menangis? Kamu suka keramaian, jadi tak mungkin menangis saat itu. Papi berharap demikian.
Seusai salat, Papi menunggu di depan pintu masjid. Namun kamu bersama Mami tak ada, padahal Papi sudah menuunggu sebelum jamaah perempuan pulang. Hingga jamaah terakhir terlihat,
kamu tak ada, juga Mami.
Papi tentu saja cemas pada tangismu sepagi itu, padahal sebelum berangkat, kamu baik-baik saja. Papi bersihkan mukamu juga pada area yang terpapar pipis. Kaki dan tanganmu juga dibersihkan.
Setiba di rumah, Papi lihat kamu terbaring lemas dengan mata terpejam. Kamu biasanya lincah dan gesit setiap pagi, mondar-mandir dan bermain apa saja. Pagi di Idul Adha, kami mendapat ujian Allah melalui sakitmu, sayang.
Meski Mami mengusap-usap wajahmu juga punggungmu, kamu tak bereaksi spontan. Lalu yang kami takutkan itu tiba, kamu muntah. Tidak sekali, tapi dua kali dalam selang du jam. Sekitar pukul 11-an kamu muntah lagi. "Admiral harus dibawa ke Siloam!" Ujar Mami, "Nanti siang sehabis salat Dhuhur."
Di Siloam, ternyata ada dua pasien yang juga muntah-muntah, meski yang satu sudah berumur sekitar 3 tahun dan seorang kelihatannya 13-an tahun.
Setelah diperiksa dokter, kamu terindikasi muntaber. Mami mengunggah fotomu sedang makan roti. Makanan pertama hari itu sekitar jam 13-an. Dokter menyarankan agar tak makan roti, karena beragi. Kamu diberi obat Sanmol juga penghenti muntah plus prebiotik.
Kami lega, kamu baik-baik saja. Namun kamu masih lemas dan hanya tidur sejak tinggalkan Siloam hingga kembali ke rumah. Di rumah, sore hari, kamu makan lahap bubur Nestle, yang sebenarnya jarang kamu sukai beberapa bulan ini. Meski makan cukup banyak plus dua potongan kecil pepaya, namun kamu masih lemas. Sebelumnya kamu puf, tapi kotoranmu masih seperti kala kamu sehat. Cuma saat kamu dibersihkan, lehermu juga kedua kaki tak tegak. Kamu lemas, bahkan reaksimu yang menyukai air juga tak terlihat.
Malam hari kamu muntah lagi sekitar pukul 23-an, meski sebelumnya kamu sudah minum obat penghenti mual dan muntah. Temperatur tubuhmu sebelumnya 37,1 waktu pengukuran di Siloam, begitu juga malam pukul 19-an. Namun saat badanmu panas, pukul 23-an, kami tak bisa mengukurnya karena kamu terganggu adanya termometer di ketiakmu.
Pagi ini, kamu sudah minum susu tapi belum bangun. Papi sudah olesi badanmu dengan campuran minyak beruang, bawang merah dan perasan jeruk nipis. Itu resep dari Eyang Putri juga teman Mami yakni Mamah Yetti. Olesan itu juga sudah kami lakukan malam tadi.
Kami harap kamu sembuh hari ini. Kamu masih terlelap. Sebentar lagi, Papi akan tetesi susumu dengan prebiotik. Doa kami pada Allah untuk kesembuhanmu, aamiin.
We Love U Admiral
No comments:
Post a Comment