Sunday, September 27, 2015

Sunday Clinic

Dear Admiral,

Sejak kamu mendapat sakit yang tiba-tiba itu. Oh ya kata Mami, sebelum berangkat ke masjid, kamu masih sempat lari-lari di jalan depan rumah dan main-main dengan Ragil. Bahkan sebelum itu, Papi yang bersihkan muka, tangan dan kakimu. Tak terlihat gejala apapun, bahkan di hari sebelumnya Papi Mami pernah mandikan kamu.

Kondisimu dalam tertentu makin baik, kami harus berprasangka baik terhadap Allah Subhana wa Taala atas takdir ini, musibah ini atau cobaan untuk kami.

Di hari pertama ketika kamu muntah sebanyak tiga kali, meski tidak berturut-turut. Ketika kami bersihkan badanmu, karena muntah atau puf, kamu tak bisa tegakkan leher juga kedua kakimu lemas. Bahkan kedua matamu tak bisa terbuka lebar.

Setelah dari IGD Siloam, minum obat-obatmu, keesokan harinya, mulai membaik. Kaki bagian kanan sudah bisa bergerak baik, dalam hal ini menendang juga tangan bagian kanan. Oh ya, bibirmu juga sudah bisa terbuka,meski hanya bagian kanan. Mata kirimu yang terbuka normal bagian kiri. Reaksi kalau lagi kesal sudah ada berupa menggerakkan tangan. Namun belum disertai reaksi verbal berupa ucapan, "menye..menye..menye...."

Kami memutuskan membawamu ke Sunday Clinic Siloam. Oh ya sekitar pukul 02. 30 kamu muntah lagi, setelah kamu minum sedikit susu. Namun sebelumnya, reaksi muntah terhadap oralit tak pernah terjadi. Papi juga sudah melumurimu dengan ramuan minyak penghangat badan. Hari ini kamu muntah sekali saja. Alhamdulillah. Berkurang frekwensi muntahmu.

Banyak lho yang peduli padamu, di antara Tante Tuti Isdayani, sahabat Papi masa kuliah. Juga kawan-kawan Papi n Mami di FB.

Kami kangen pada dirimu yang ceria, gesit, lincah, suka bicara, dan lucu itu.

Semoga Allah segera menyembuhkanmu, aamiin. Sebelum ini Papi  berdoa dulu di shalat malam.

Hanya kepada Allah wajib kita ibadahi dan memohon pertolongan.

Semoga kamu sehat dan tak ada pengaruh buruk secara fisik dan mental pada dirimu. Kamu adalah investasi akherat kami, semoga menjadi anak yang saleh, aamiin. Itu doa kami untukmu.

Malam ketika Mami pulang dari Antara, sebagai bagian dari Pelatihan Dasar, di dekat tempat dirimu tidur, Mami menangis. Papi juga demikian. Kami jarang menangis lho, padamu ada air mata dalam doa dan pengharapan.



We Love U Admiral

Saturday, September 26, 2015

Dini Hari Kamu sudah Berguling-Guling

Dear Admiral,

Dini hari kamu sudah berguling-guling di tempat tidurmu, bahkan sudah bisa memeluk bantal guling yang besar. Susu Child Kid sebanyak 150 ml, sudah kamu habiskan. Apa yang kami cemaskan berupa leher yang sebelumnya tak bisa kamu tegakkan juga kakimu, semoga hari ini bisa.

Kamu bayi yang tangguh, penyakit gejala muntaber ini, semoga latihan untuk tubuh dan jiwamu agar semakin kuat. Itu juga berlaku untuk Papi dan Mami, agar semakin menguatkan jwa raga kami menghadapi apapun juga,'

We Love U Admiral

Bayi Kami yang Penyejuk Hati

Dear Admiral,

Suatu ketika di masa depan, sesuai doa kami yang berdasarkan namamu Admiral Comandante al-Mustafa, Insya Allah kamu menjadi sosok yang besar. Namun kamu harus tahu, bahwa sehebat-hebatnya manusia, siapapun dia pasti pernah menjadi bayi. Suatu era, ketika tak bisa melakukan apapun dan tentu penuh ketidak-berdayaan.

Ingatkan pada mereka yang angkuh dan sombong, bahwa semua itu tak didapatkan kala bayi. Sayang sekali, mereka yang membesarkan diri dengan keangkuhaan dan kesewenang-wenangan tak ingat bagaimana ketika masih bayi yang tak punya keberdayaan sedikitpun.

Kami merawatpun dengan sepenuh kasih sayang dan perhatian yang berlimpah.
Semoga Allah merahmatimu, putra kami yang penyejuk hati.
Kata Mami, kamu investasi kami di akherat. Jadi kami akan mendidikmu agar menjadi anak yang saleh, aamiin

We Love U Admiral


Kecemasan dan Keringat Dingin

Dear Admiral,

Seusai Papi dan Mami mengantarmu ke dokter, juga sepupumu  Febby, kamu mendapat tambahan 'minuman baru'berupa oralit. Kamu memamng tidak menolak meminumnya, sebagaimana bila berkaitan dengan rasa obat. Setelah kamu minum, terlihat lidahmu berada di antara gigi-gigimu. Tidak tergigit memang, tapi kami cemas mengapa susah melepaskan lidahmu yang 'terjepit' di gigi  atas dan bawah. Saat itu, entah karena capek dari dokter atau memang istrahat pulas, tanganmu lemas sekali.

Biasanya bila kamu bobo dan kami pegang-pegang tanganmu, kamu langsung menampik. Tapi tidak kali ini. Papi berkeringat dingin di jidat, bahkan kata Mami, wajahku pucat pasi. Denyut jantungku berdebar kencang. Tapi Mami kulihat biasa-biasa saja. Mami berusaha melepaskan lidahmu di antara dua gigi dengan mendorong memakai dot juga jemari.

Alhamdulillah bisa!

Kami cek suhu tubumu 36,7 Celcius, berarti tak ada yang perlu kami cemaskan lagi.

Sejak pukul 21-an hingga jelang pukul 04.00 kamu sudah habiskan oralit satu bungkus.

Kami juga sudah mengganti susumu dari Bebelac 3 ke Chil Kid. Biasanya kamu muntah seusai minum susu, tapi tadi tidak. Oh ya susumu ada juga SGM Soya, karena Papi kira kamu tak cocok dengan susu sapi.

Semoga hari ini kamu sehat dan berlari-lari kencang dengan energi yang kami benar-benar tak habis.

We Love U Admiral

Friday, September 25, 2015

Belum Muntah

Dear Admiral,

Pagi ini, meski ada pertanda muntah, namun tak terjadi. Alhamdulillah. Kamu puf tapi tak berbentuk keras, agak kurang padat, tapi bukan mencret. Warna kotoran, coklat tua atau agak kehitam-hitaman. Masih normal seperti kala kamu sehat.

Obat penghilang muntah sudah kamu minum, meski dengan penolakan tentu saja. Hanya beberapa tetes yang terbuang. Pagi ini kamu akan makan bubur Nestle kembali, Sebelumnya Papi rencanakan kamu makan bubur coklat Sun, tapi entahlah apakah kamu suka. Sebelumnya kamu tak suka sama sekali. Tapi patut dicoba, siapa tahu kali ini suka.

Kamu sudah mulai bergerak cepar, meski hanya sebatas menendang atau mencakar dan sesekali memukul. Papi kamu cakar waktu bersihkan kotoranmu alias cebokin.

Kamu ternyata muntah, bahkan keluar air juga dari hidung. Oh ya kamu sudah lengkap vaksinasi atau imunisasi Rotavirus untuk melawan muntaber, namun kamu terpapar juga.

Semoga hari ini, lehermu kembali tegak melawan dengan setangguhnya penyakitmu. Kuatkan kedua kuda-kudamu sayang, berdiri tegak kembali ya an berjalan juga berlari sekencamgnya seperti waktu kamu sehat dua hari lalu dan juga hari-hari sebelumnya, aamiin.

We love U Admiral

Gejala Muntaber di Salat Ied

Dear Admiral,

Kamu ikut juga merayakan Idul Qurban ini di masjid Nurul Sejahtera bersama Mami. Saat pengurus masjid menjelaskan tata cara shalat, Papi dengar suara anak kecil menangis keras sekali. Suara yang Papi lazim dengar, tapi bila itu memang dirimu mengapa menangis? Kamu suka keramaian, jadi tak mungkin menangis saat itu. Papi berharap demikian.

Seusai salat, Papi menunggu di depan pintu masjid. Namun kamu bersama Mami tak ada, padahal Papi sudah menuunggu sebelum jamaah perempuan pulang. Hingga jamaah terakhir terlihat,
kamu tak ada, juga Mami.

Papi tentu saja cemas pada tangismu sepagi itu, padahal sebelum berangkat, kamu baik-baik saja. Papi bersihkan mukamu juga pada area yang terpapar pipis. Kaki dan tanganmu juga dibersihkan.

Setiba di rumah, Papi lihat kamu terbaring lemas dengan mata terpejam. Kamu biasanya lincah dan gesit setiap pagi, mondar-mandir dan bermain apa saja. Pagi di Idul Adha, kami mendapat ujian Allah melalui sakitmu, sayang.

Meski Mami mengusap-usap wajahmu juga punggungmu, kamu tak bereaksi spontan. Lalu yang kami takutkan itu tiba, kamu muntah. Tidak sekali, tapi dua kali dalam selang du jam. Sekitar pukul 11-an kamu muntah lagi. "Admiral harus dibawa ke Siloam!" Ujar Mami, "Nanti siang sehabis salat Dhuhur."

Di Siloam, ternyata ada dua pasien yang juga muntah-muntah, meski yang satu sudah berumur sekitar 3 tahun dan seorang kelihatannya 13-an tahun.

Setelah diperiksa dokter, kamu terindikasi muntaber. Mami mengunggah fotomu sedang makan roti. Makanan pertama hari itu sekitar jam 13-an. Dokter menyarankan agar tak makan roti, karena beragi. Kamu diberi obat Sanmol juga penghenti muntah plus prebiotik.

Kami lega, kamu baik-baik saja. Namun kamu masih lemas dan hanya tidur sejak tinggalkan Siloam hingga kembali ke rumah. Di rumah, sore hari, kamu makan lahap bubur Nestle, yang sebenarnya jarang kamu sukai beberapa bulan ini. Meski makan cukup banyak plus dua potongan kecil pepaya, namun kamu masih lemas. Sebelumnya kamu puf, tapi kotoranmu masih seperti kala kamu sehat. Cuma saat kamu dibersihkan, lehermu juga kedua kaki tak tegak. Kamu lemas, bahkan reaksimu yang menyukai air juga tak terlihat.

Malam hari kamu muntah lagi sekitar pukul  23-an, meski sebelumnya kamu sudah minum obat penghenti mual dan muntah. Temperatur tubuhmu sebelumnya 37,1 waktu pengukuran di Siloam, begitu juga malam pukul 19-an. Namun saat badanmu panas, pukul 23-an, kami tak bisa mengukurnya karena kamu terganggu adanya termometer di ketiakmu.

Pagi ini, kamu sudah minum susu tapi belum bangun. Papi sudah olesi badanmu dengan campuran minyak beruang, bawang merah dan perasan jeruk nipis. Itu resep dari Eyang Putri juga teman Mami yakni Mamah Yetti. Olesan itu juga sudah kami lakukan malam tadi.

Kami harap kamu sembuh hari ini. Kamu masih terlelap. Sebentar lagi, Papi akan tetesi susumu dengan prebiotik. Doa kami pada Allah untuk kesembuhanmu, aamiin.

We Love U Admiral


Thursday, September 24, 2015

Beratmu Normal

Dear Admiral,

Beratmu kini 10,5 kg. Kami menimbangmu di sebuah tempat praktek dokter, ketika Febby diperiksa ulang luka jahitannya. Kamu semakin KEPO memerhatikan apapun di dekatmu secara cermat. Kamu bahkan masih bermain naik tangga. Kamu suka sekali naik tangga sekarang, sebagai tantangan, juga menyenangi memanjat, meski bukan pohon. Tumpukan baju, kamu suka panjati. Bahkan kamu suka lompat-lompatan dan berguling di kasur. Dinding sekitar kasur kini diamankan dengan bantal agar kamu tak kejeduk.

We love U Admiral