Saturday, September 26, 2015

Bayi Kami yang Penyejuk Hati

Dear Admiral,

Suatu ketika di masa depan, sesuai doa kami yang berdasarkan namamu Admiral Comandante al-Mustafa, Insya Allah kamu menjadi sosok yang besar. Namun kamu harus tahu, bahwa sehebat-hebatnya manusia, siapapun dia pasti pernah menjadi bayi. Suatu era, ketika tak bisa melakukan apapun dan tentu penuh ketidak-berdayaan.

Ingatkan pada mereka yang angkuh dan sombong, bahwa semua itu tak didapatkan kala bayi. Sayang sekali, mereka yang membesarkan diri dengan keangkuhaan dan kesewenang-wenangan tak ingat bagaimana ketika masih bayi yang tak punya keberdayaan sedikitpun.

Kami merawatpun dengan sepenuh kasih sayang dan perhatian yang berlimpah.
Semoga Allah merahmatimu, putra kami yang penyejuk hati.
Kata Mami, kamu investasi kami di akherat. Jadi kami akan mendidikmu agar menjadi anak yang saleh, aamiin

We Love U Admiral


Kecemasan dan Keringat Dingin

Dear Admiral,

Seusai Papi dan Mami mengantarmu ke dokter, juga sepupumu  Febby, kamu mendapat tambahan 'minuman baru'berupa oralit. Kamu memamng tidak menolak meminumnya, sebagaimana bila berkaitan dengan rasa obat. Setelah kamu minum, terlihat lidahmu berada di antara gigi-gigimu. Tidak tergigit memang, tapi kami cemas mengapa susah melepaskan lidahmu yang 'terjepit' di gigi  atas dan bawah. Saat itu, entah karena capek dari dokter atau memang istrahat pulas, tanganmu lemas sekali.

Biasanya bila kamu bobo dan kami pegang-pegang tanganmu, kamu langsung menampik. Tapi tidak kali ini. Papi berkeringat dingin di jidat, bahkan kata Mami, wajahku pucat pasi. Denyut jantungku berdebar kencang. Tapi Mami kulihat biasa-biasa saja. Mami berusaha melepaskan lidahmu di antara dua gigi dengan mendorong memakai dot juga jemari.

Alhamdulillah bisa!

Kami cek suhu tubumu 36,7 Celcius, berarti tak ada yang perlu kami cemaskan lagi.

Sejak pukul 21-an hingga jelang pukul 04.00 kamu sudah habiskan oralit satu bungkus.

Kami juga sudah mengganti susumu dari Bebelac 3 ke Chil Kid. Biasanya kamu muntah seusai minum susu, tapi tadi tidak. Oh ya susumu ada juga SGM Soya, karena Papi kira kamu tak cocok dengan susu sapi.

Semoga hari ini kamu sehat dan berlari-lari kencang dengan energi yang kami benar-benar tak habis.

We Love U Admiral

Friday, September 25, 2015

Belum Muntah

Dear Admiral,

Pagi ini, meski ada pertanda muntah, namun tak terjadi. Alhamdulillah. Kamu puf tapi tak berbentuk keras, agak kurang padat, tapi bukan mencret. Warna kotoran, coklat tua atau agak kehitam-hitaman. Masih normal seperti kala kamu sehat.

Obat penghilang muntah sudah kamu minum, meski dengan penolakan tentu saja. Hanya beberapa tetes yang terbuang. Pagi ini kamu akan makan bubur Nestle kembali, Sebelumnya Papi rencanakan kamu makan bubur coklat Sun, tapi entahlah apakah kamu suka. Sebelumnya kamu tak suka sama sekali. Tapi patut dicoba, siapa tahu kali ini suka.

Kamu sudah mulai bergerak cepar, meski hanya sebatas menendang atau mencakar dan sesekali memukul. Papi kamu cakar waktu bersihkan kotoranmu alias cebokin.

Kamu ternyata muntah, bahkan keluar air juga dari hidung. Oh ya kamu sudah lengkap vaksinasi atau imunisasi Rotavirus untuk melawan muntaber, namun kamu terpapar juga.

Semoga hari ini, lehermu kembali tegak melawan dengan setangguhnya penyakitmu. Kuatkan kedua kuda-kudamu sayang, berdiri tegak kembali ya an berjalan juga berlari sekencamgnya seperti waktu kamu sehat dua hari lalu dan juga hari-hari sebelumnya, aamiin.

We love U Admiral

Gejala Muntaber di Salat Ied

Dear Admiral,

Kamu ikut juga merayakan Idul Qurban ini di masjid Nurul Sejahtera bersama Mami. Saat pengurus masjid menjelaskan tata cara shalat, Papi dengar suara anak kecil menangis keras sekali. Suara yang Papi lazim dengar, tapi bila itu memang dirimu mengapa menangis? Kamu suka keramaian, jadi tak mungkin menangis saat itu. Papi berharap demikian.

Seusai salat, Papi menunggu di depan pintu masjid. Namun kamu bersama Mami tak ada, padahal Papi sudah menuunggu sebelum jamaah perempuan pulang. Hingga jamaah terakhir terlihat,
kamu tak ada, juga Mami.

Papi tentu saja cemas pada tangismu sepagi itu, padahal sebelum berangkat, kamu baik-baik saja. Papi bersihkan mukamu juga pada area yang terpapar pipis. Kaki dan tanganmu juga dibersihkan.

Setiba di rumah, Papi lihat kamu terbaring lemas dengan mata terpejam. Kamu biasanya lincah dan gesit setiap pagi, mondar-mandir dan bermain apa saja. Pagi di Idul Adha, kami mendapat ujian Allah melalui sakitmu, sayang.

Meski Mami mengusap-usap wajahmu juga punggungmu, kamu tak bereaksi spontan. Lalu yang kami takutkan itu tiba, kamu muntah. Tidak sekali, tapi dua kali dalam selang du jam. Sekitar pukul 11-an kamu muntah lagi. "Admiral harus dibawa ke Siloam!" Ujar Mami, "Nanti siang sehabis salat Dhuhur."

Di Siloam, ternyata ada dua pasien yang juga muntah-muntah, meski yang satu sudah berumur sekitar 3 tahun dan seorang kelihatannya 13-an tahun.

Setelah diperiksa dokter, kamu terindikasi muntaber. Mami mengunggah fotomu sedang makan roti. Makanan pertama hari itu sekitar jam 13-an. Dokter menyarankan agar tak makan roti, karena beragi. Kamu diberi obat Sanmol juga penghenti muntah plus prebiotik.

Kami lega, kamu baik-baik saja. Namun kamu masih lemas dan hanya tidur sejak tinggalkan Siloam hingga kembali ke rumah. Di rumah, sore hari, kamu makan lahap bubur Nestle, yang sebenarnya jarang kamu sukai beberapa bulan ini. Meski makan cukup banyak plus dua potongan kecil pepaya, namun kamu masih lemas. Sebelumnya kamu puf, tapi kotoranmu masih seperti kala kamu sehat. Cuma saat kamu dibersihkan, lehermu juga kedua kaki tak tegak. Kamu lemas, bahkan reaksimu yang menyukai air juga tak terlihat.

Malam hari kamu muntah lagi sekitar pukul  23-an, meski sebelumnya kamu sudah minum obat penghenti mual dan muntah. Temperatur tubuhmu sebelumnya 37,1 waktu pengukuran di Siloam, begitu juga malam pukul 19-an. Namun saat badanmu panas, pukul 23-an, kami tak bisa mengukurnya karena kamu terganggu adanya termometer di ketiakmu.

Pagi ini, kamu sudah minum susu tapi belum bangun. Papi sudah olesi badanmu dengan campuran minyak beruang, bawang merah dan perasan jeruk nipis. Itu resep dari Eyang Putri juga teman Mami yakni Mamah Yetti. Olesan itu juga sudah kami lakukan malam tadi.

Kami harap kamu sembuh hari ini. Kamu masih terlelap. Sebentar lagi, Papi akan tetesi susumu dengan prebiotik. Doa kami pada Allah untuk kesembuhanmu, aamiin.

We Love U Admiral


Thursday, September 24, 2015

Beratmu Normal

Dear Admiral,

Beratmu kini 10,5 kg. Kami menimbangmu di sebuah tempat praktek dokter, ketika Febby diperiksa ulang luka jahitannya. Kamu semakin KEPO memerhatikan apapun di dekatmu secara cermat. Kamu bahkan masih bermain naik tangga. Kamu suka sekali naik tangga sekarang, sebagai tantangan, juga menyenangi memanjat, meski bukan pohon. Tumpukan baju, kamu suka panjati. Bahkan kamu suka lompat-lompatan dan berguling di kasur. Dinding sekitar kasur kini diamankan dengan bantal agar kamu tak kejeduk.

We love U Admiral

Orang-Orang tanpa Pamrih

Dear Admiral,

Dua hari lalu, dua kakak sepupumu kecelakaan motor depan kantor BRI Paccinongan karena menghindari tabrakan dengan seorang ibu yang juga bermotor yang keluar dari depan rumahnya. Debby, tiga gigi depannya goyah. Salah satu diantaranya hampir copot. Febby harus dijahit pada bagian bibir kiri atas, satu jahitan. Luka lainnya pada Debby yakni memar kepala kiri, bengkak bibir. Pada Febby bengkak pada bagian lutut.

Debby harus dibawa ke spesialis gigi di jalan Pettarani agar bisa mempertahankan gigi itu dengan cara diberi kawat gigit. Kondisi motor matic rusak pada bagian lampu utama dan kaca spion lepas.

Moral dari peristiwa ini yakni adanya Pak Rahim (081241846846) yang waktu itu hendak menjenguk sepupunya yang melahirkan di RSUD Syech Yusuf. Ia melewati arah tempat Debby dan Febby kecelakaan dan membawa mereka ke IGD. Kalau bukan ia, pasti akan semakin berbahaya pada dua sepupumu, di antaranya pendarahan dan rasa takut yang makin besar. Ia bahkan memastikan saya juga berada di IGD dengan menunggu.

Di IGD ini pelayanan lambat, menurut dua sepupumu,  mereka dilayani setelah menunggu setengah jam. Yang berjaga, bukan dokter tapi tiga perawat saja. Bahkan disana, saat itu ada seorang ayah yang mengeluarkan anaknya dari IGD karena terabaikan. Anak itu dilayani setelah Bapaknya membawa keluar anaknya dari ruang IGD.

Malam hari setelah keluar IGD, Debby dibawa ke dokter gigi, Meski sudah diperiksa sekitar setengah jam, tapi dokter itu tak meminta bayaran. Dialah yang merekemondasikan agar Debby dirujuk ke perawatan khusus gigi. Tentang dokter gigi yang baik itu, nanti kutulis pada bagian lain.

Selalui ada orang baik, jadi jadilah kamu seorang penolong yang tanpa pamrih seperti sikap dari Pak Rahim dan Pak Dokter Gigi tersebut.

We Love U Admiral

Tuesday, September 22, 2015

Suaramu Keras juga Tangismu

Dear Admiral,

Sejak kelahiranmu, kami tak mendengar suaramu seperti bayi yang berbunyi ngeak-ngeak, ngeak (atau seperti itulah kalau ditransliterasikan). Suaramu terdengar paling keras di tempat mandi bayi di Siloam di antara para byi. Hingga sekarang juga demikian, suaramu sangat nyaring, tidak hanya kala menangis. Juga dalam hal tertentu kalau teriak atau berbicara dengan tekanan tertentu.

Malam tadi, kamu bermain dengan cara buka atau menutup lemari. Tanganmu terjepit, tapi kamu tidak menangis. Mami bilang supaya kami diam-diam saja. Sekitar dua menit kami diam dan kamu tak menangis sama sekali. Pasti itu sakit. Namun, kemudian kami bicara mengomentari tentang dirimu yang kuat menahan sakit tanpa tangis. Lalu kamu mendengarnya, meski tak mengerti, kamu merasa kami tahu sakitmu. Setelah itu kamu baru menangis.

Andai kami diamkan dan pura-pura tak tahu, kamu pasti tidak menangis dan melupakan rasa sakitmu hingga semua berlalu.

Tetaplah bersuara keras, jagoan kami. Untuk tangismu, biar untuk dirimu atau kala kamu memeluk kami.

We Love U Admiral